KISAH KASIH DI ASRAMA

Pagi ini, duduk santai di balkon rumah sambal menyeruput the manis hangat sambil menghirup udara sejuk khas musim dingin di mesir, the manis hangat lumayan mampu mengusir hawa dingin di dalam tubuh ku ini. Sambil melihat kelangit, aku melihat banyak bayangan bayangan indah, bayangan mengenai kehidupan ku selama tujuh tahun hidup di asrama pondok pesantren dinyah limo jurai. Ya! Setiap anak asrama sebuah pondok pesantren pasti memiliki sejuta cerita yang tak akan pernah mereka lupakan seumur hidup, karena begitu banyak nya kejadian yang berkesan di dalam asrama itu, mulai dari suka maupun duka. Kehidupan anak asrama yang beraneka ragam, mereka hidup bersama, jauh dari orang tua, mereka dilepas orang tua ketika selepas sekolah dasar, masih ingusan, lugu dan manja untuk masuk asrama yang kehidupanya keras, kelakuan penghuninya beraneka ragam, latar belakang ekonomi yang berbeda, disiplin serta kebersamaan yang menempa mental anak asrama menjadi sekuat baja. Mereka harus hidup mandiri walaupun mereka masih kecil,  kehidupan nya berubah 360 derajat, dari awalnya menjadi anak yang manja dan penakut di rumah, menjadi anak yang mandiri dan berani setelah memasuki asrama.

santri6

Kehidupan asrama begitu kompleks, sesuai dengan judul diatas, kehidupan asrama itu tidak selalu menyenangkan, kadang ada sedih nya, takutnya, jengkel nya dan tentu juga ada kasih nya disana. Aku teringat ketika aku memasuki asrama, aku awalnya anak yang pendiam dan manja, juga anak rumahan, sedikit cengeng iya juga, lengkaplah bagiku syarat menjadi anak yang tidak mandiri dan penakut. Ketika memasuki asrama itu, aku merasakan suasana mengerikan, melihat senior senior tampang nya sangar, lalu dengan suasana asrama yang ketika itu gelap,dan sedikit berantakan, maklum lah nama nya juga asrama putera, masih kecil kecil juga, wajar masih agak berantakan. Kehidupan ku berubah 360 derajat, ketika makan contohnya, biasanya di rumah ada mama yang memasak apa yang aku inginkan, namun di asrama aku harus memasak apa yang akan ku makan, dan makanan itupun makanan yang tidak aku ingin kan, contohnya saja ikan teri, terong, telur dan makanan sederhana lainya. Aku bingung, gimana cara masaknya, aku saja tidak pandai masak, masak telur mata sapi saja tidak pandai, akhirnya aku belajar kepada para senior dan ustaz, akhirnya aku pandai masak masakan itu, bahkan aku memvariasikan masakan yang aku buat, aku bersyukur, kalua seandainya aku tidak masuk asrama, mungkin sampai kuliah pun aku tidak pandai masak.

Lalu kehidupan lainya adalah menghadapi orang lain yang tinggal di asrama, anak asrama datang dari berbagai daerah, dengan macam macam perangai yang berbeda, ada yang jahat, ada yang usil, ada yang cengeng juga seperti aku bahkan ada juga yang homa (hobi maling) hehe. Belum lagi dengan perangai senior yang seenaknya (karena suka main keroyokan), mentang mentang mereka lebih besar, seenaknya mereka menjahili kami kapan pun mereka mau, ketika kami makan, makanan kami dirampas, ketika aku pun tidur, mereka melumuri aku dengan bedak dan garam ke wajah aku, ketika bangun nya, dengan susah payah aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan mataku dari bedak, rasa nya sangat perih. Walaupun aku memiliki abang yang tinggal di asrama, itu tidak membuat mereka berhenti menggangguku, yah wajarlah, abangku juga ikutan menjahili teman teman ku yang lain. Aku juga pernah dilempari pakai biji salak ketika lagi tidur, owh rasanya begitu perih karena biji itu tepat mengenai kepala ku, namun sebagai junior, aku tidak mampu melakukan apa apa. Lalu yang paling sering adalah ketika kami anak asrama yang baru sedang tidur, senior kami mencorat coret wajah kami dengan spidol permanen, akihirnya kami terlihat seperti badut ketika bangun tidur. Lengkaplah kehidupan ku di asrama dengan berbagai kejahilan teman dan senior itu. Awal nya aku sakit hati dan jengkel, siapa juga yang suka diganggu ketika tidur nyenyak. Lalu aku pun ikut serta menjahili teman teman ku yang lain nya, aku tidak terima dijahili, akhirnya aku menjahili orang, disitulah mucul rasa keberanianku untuk mengganggu orang lain. hehe, aneh bukan, namun itu lah warna warni kehidupan asrama, aku tidak menyesal tinggal di asrama, karena begitu banyak pembelajaran dan pengalaman yang aku dapatkan ketika hidup di asrama.

santriii

santri

Tradisi ambil mengambil pun telah berjalan secara turun temurun di asrama, ungkapan “barang teman adalah barang kita juga” (anak asrama pasti paham dengan prinsip ini, hehe) sangat terkenal bagi kalangan anak asrama. Missal nya ketika hari upacara, murid wajib memakai atribut lengkap sperti peci, dasi, kaus kaki dan sepatu. Dulu pernah ketika akan upacara, aku kehilangan sepatu, setelah pusing mencarinya, akhirnya aku pasrah dan aku memakai sandal ketika upacara, ketika upacara aku dimarahi abis abisan oleh pak guru, beliau tidak menerima alasan sepatu hilang dan lain sebagainya, setelah itu aku melihat temanku memakai sepatu ku, aku pun naik pitam dan lansung memarahi teman ku juga. Kejadian itu mengajarkan aku untuk menjaga barang ku semaksimal mungkin, semenjak itu aku sangat menjaga barang ku, walaupun begitu, masih tetap saja barangku hilang. Kalau lah aku tidak masuk asrama, mungkin aku tidak pandai menjaga barang ku sendiri. Begitu juga dengan alat mandi yang juga sering hilang (hehe) bahkan sampai sabun kita sendiri saja bisa hilang.

santri7

Kehilangan barang berharga juga turut menghiasi kehidpan ku di asrama, dan setiap anak asrama pasti juga memiliki pengalaman barang berharga di asrama. Aku teringat ketika aku kehilangan uang untuk membayar spp sekolah, waktu itu berjumlah lima ratus ribu, ketika tahun 2009 itu sangat sangat besar jumlah nya, ketika itu aku meletakkan uang di lemari, lalu aku pergi jajan tanpa mengunci lemari, ketika aku kembali dari kedai, alangakah terkejutnya ketika aku mlihat lemari ku sudah berantakan dan dalam posisi terbuka, lansung saja aku lemas dan sedih, aku sempat menangis lalu mengadukan hal ini kepada Pembina asrama, eh malahan aku nya yang dimarahi. Tidak hanya sekali dua kali, berkali kali malahan, karena sring kena maling, akhirnya aku membeli gembok besar, dan aku selalu mengunci lemari setiap kali keluar kamar, walaupun aku keluar hanya untuk  pergi ke kamar mandi, ini juga lah yang membuat aku paham bagaimana rasa nya kehilangan sesuatu yang berharga dan juga aku juga paham bagaimana cara menjaga barang kita, kalua lah aku tidak masuk asrama, mungkin aku masih cayah atau tidak pandai menjaga barang ku sendiri.

Hal menarik lainya yaitu, kami sebagai anak asrama (ciee..) juga Mengenal apa itu cinta, walaupun kami sebenar nya juga tidak paham dengan cinta (hehe) , yang jelas kami memahami kalau melihat kita lawan jenis yang cantik, lalu kami suka, itu sama saja artinya kami cinta sama dia, simple sekali bukan?? Namun itulah hal hal yang menyenangkan yang menjadi bumbu khas kami menjadi anak asrama. Melihat lawan jenis adalah hiburan tersendiri bagi kami, kenapa?? Karena selama  seharian (24 jam) kami hanya melihat dan berbicara dengan anak laki laki saja, hehe, namun ketika mendapatkan kesempatan bertemu dengan anak perempuan —walaupun hanya melihat dari jauh— kami menjadi sangat senang sekali, apalagi kalau sampai berbicara sama perempuan, wahhh kami pun sering bertaruh untung mengomong sepatah kata sama perempuan atau santriwati yang lain. jadi kami melihat santriwati itu sebagai mutiara yang sangat menakjubkan (hehe) bahkan kami pun merasa silau untuk melihat mereka, padahal juga pengen, ini tidaklah berlebihan Karena hal itulah yang kami rasakan selama di pesantren ,anda yang dulu nya santri juga pasti pernah merasakan nya buka

(santriwati, mereka yang mewarnai hati kami dahulu)

memang tidak bagus sebenarnya, namun itulah kami, anak ingusan yang pisah sama orang tua, hidup sendiri, segala nya sendiri, , namun yang pasti Kita bersama anak asrama yang lain hidup bersama, sama sama jauh dari orang tua, sama sama susah, sama sama sering kehilangan, namun itu lah yang membuat kami kompak dan bisa saling pengertian satu sama lain. banyak pembeljaran yang kami dapatkan, dan kami yakin pembelajaran inilah yang menjadi modal kami untuk sukses dimasa depan, kami yakin, suatu saat kami pasti akan merindukan kehidupan di asrama itu Amiiin.

santri5

By; Tareq albana, dari negeri seribu Menara, Kairo, Mesir.

3 Comments Add yours

  1. Yusuf Muhammad berkata:

    Uwoo.. Saya juga pernah 6 tahun jadi anak asrama, hehe..

    Suka

    1. tareeeq berkata:

      hoo, udah paham ya mas sama kehidupan anak asrama
      haha

      Disukai oleh 1 orang

      1. Yusuf Muhammad berkata:

        Iya, haha..

        Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s